Pharaohsproject

ini blog milikku, ku tak mau seorang pun meniru isinya, tidak juga kau~ yang penting baca aja dulu...

Name:
Location: Beautiful Bandung, West Java, Indonesia

a few words to describe me: i am what i am.

Saturday, November 06, 2004

cerpen~ karangan gw sendiri

Dikutip dari Sebuah Kisah Sedih
~*~Karya Shapby Sakina~*~

Tidak ada manusia yang pantas mati.
Kau tahu kalimat itu? Rasanya pernah muncul di salah satu buku terjemahan dari bahasa Jepang. Bagimu, mungkin itu hanya sebuah kalimat biasa. Bagiku, kalimat itu membawa kenangan buruk.
Ia mengutipnya dari buku terjemahan itu. Ia memang langganan seri buku tersebut, tidak pernah tertinggal satu edisi pun. “Kalimat ini mencerminkan hidup, bukan? Meski tidak ada yang pantas mati, setiap manusia pasti menemui ajal,” begitu katanya.
Temanku yang satu ini memang agak puitis. Berlawanan sekali dengan penampilan luarnya. Gayanya cuek. Rambutnya yang cepak tidak terurus. Sama sekali tidak tersentuh gel atau mousse, berbeda dengan anak laki-laki lainnya di kelas. Dia nyaris satu-satunya temanku ketika aku duduk di SMP. Aku kurang bisa berbaur dengan sesama perempuan dan aku paling malas kalau harus berurusan dengan laki-laki. Kecuali dia.
Tidak ada manusia yang pantas mati. Apa dia sadar akan ucapannya? Kata-kata yang kini membangkitkan rasa terbakar, membuat mata panas dan perih tiap mengingatnya.
Sungguh, tak ada manusia yang pantas mati.
*
“Rangga!”
Begitulah aku memanggilnya. Begitu pulalah anak-anak lain memanggilnya.
“Ta!” seru Rangga, membalas sapaku. Aku suka caranya memanggil namaku. Ta, kependekan dari Taria.
Rangga membawa sebuah buku. Dari sampulnya, bisa ditebak isinya.
“Edisi terbaru, ya?” tanyaku.
Rangga mengangguk. Ia mulai membongkar sampul plastik yang menyelubungi buku itu. Jelas sekali, ia baru membelinya dari penjual buku asongan di depan sekolah. Buku itu edisi terbaru dari serial komik kesukaannya.
Aku memperhatikan jari-jarinya membalikkan halaman demi halaman. Aku suka sekali caranya meraih sudut teratas dari setiap lembar kertas.
Kelas yang ribut mulai meredam karena kehadiran guru matematika kami yang tidak pernah ragu menghukum murid yang ribut. Raut muka Rangga berubah menjadi suram. Rangga menunda acara membacanya. Ia menyelipkan bukunya di kolong meja.
Aku menahan senyum. Rangga memang berbeda.
*
Saat itu, aku belum sadar. Mengutip sebuah lagu barat, “Kau baru sadar akan apa yang kau miliki ketika kau telah kehilangannya.”
*
“Lalu, bagaimana? Apa menariknya?”
Dua hari sejak Rangga membeli buku itu. Aku menyusuri jalan pulang, membuntuti Rangga yang mengendarai sepeda jingganya.
“Orang sepertimu mana bisa mengerti?” celetuk Rangga. Ia mulai mengendalikan sepedanya dengan satu tangan.
Aku mengejarnya. “Apa maksudmu, aku tidak akan mengerti?”
Rangga menghentikan laju sepedanya mendadak. Bunyi remnya mencicit, membuatku nyaris menabraknya. Putaran roda yang cepat berubah menjadi lambat. Kami mengarah pulang perlahan, berjalan berdampingan.
“Caranya menggunakan kata-kata,” mulai Rangga.
Aku menoleh pada Rangga. Ia menatapku. “Apa kau pernah merasakan takdir Tuhan?”
Aku menggeleng.
“Seandainya seseorang yang kau sayangi dengan sepenuh hati tiba-tiba meninggal, bagaimana perasaanmu?”
“Sedih,” jawabku singkat.
Rangga tertawa. Ia menggeleng-gelengkan kepala. “Dasar naif.”
“Eh?”
Rangga mengayuh sepedanya. Kali ini lebih cepat. “Lupakan sajalah.”
*
Kini aku, sendirian, menyusuri jalan pulang kami saat itu. Lima tahun sudah lewat sejak saat itu.
Lima tahun.
Tanganku menggenggam rangkaian bunga. Kuletakkan di pojok perempatan jalan. Aku duduk di pembatas jalan sambil menerawang jauh.
Lima tahun yang lalu.
Aku merasakannya. Takdir Tuhan dan rasa sedih yang sesungguhnya.
Lima tahun yang lalu.
*
“Huaaah!” seruku. Hari itu memang panas. “Rangga, beli es krim yuk!”
“Es krim?” Rangga mengangkat alis. “Di mana?”
“Di perempatan,” jawabku sambil menggiring sepeda Rangga.
Rangga mengangguk. “Bolehlah.” Ia berjalan di belakangku sambil tersenyum. Aku juga ikut tersenyum. Tersenyum karena melihat senyuman Rangga. Senyuman yang tak akan terlupakan.
*
Aku berdiri di trotoar perempatan itu.
Lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Mobil-mobil berlalu dengan cepat. Setiap orang bergegas dengan kepentingannya masing-masing.
Persis seperti lima tahun yang lalu.
*
“Tuh, di toko yang itu,” tunjukku.
Rangga mengankat wajah. Ia menatap toko di seberang jalan itu. “Biar aku saja. Kau tunggu di sini.”
“Lho?” sahutku, bingung. “Berdua saja. Kenapa harus sendirian ke sana?”
“Hemat tenaga.”
Aku meninju bahu Rangga, setengah bercanda. “Hemat tenagamu sendiri saja.” Kukebut sepeda Rangga menyeberangi jalan.
*
Takdir Tuhan kadang terasa begitu manis, kadang begitu membahagiakan.
Kadang begitu pedih.
Menusuk sampai ke luka-luka yang terasa.
Aku memang bodoh. Truk sebesar itu tidak terlihat. Memangnya mataku ini melihat ke mana waktu itu?
Kusentuh rangkaian bunga yang tergeletak di jalan. Lucu juga. Air mataku mengalir padahal aku tidak ingin menangis.
Bukankah aku sudah berjanji pada Rangga untuk tidak menangis?
*
“TAAAA!”
Itu saja yang kuingat. Teriakan Rangga. Tiba-tiba aku merasakan dorongan ke depan. Aku terlempar ke pinggir jalan. Ada bunyi decitan yang keras.
Aku mengangkat kepala. Pusing. Kulihat keadaan sekitar. Orang-orang berkerumun di depan sebuah truk yang berhenti di tengah jalan. Aku berdiri dan berjalan ke kerumunan itu. Kuterobos gerombolan orang itu.
“Rangga?”
*
Kucengkeram kepalaku sendiri.
Pemandangan yang paling tidak ingin kuingat. Sosok Rangga yang tergeletak di jalan. Kepalanya berlumur darah.
Sebuah ambulans melintas di depanku. Lima tahun yang lalu pun begitu. Rangga diangkut oleh
ambulans.
*
Aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Aku hanya terdiam, menatap Rangga dengan
pandangan kosong. Petugas medis di ambulans sibuk bukan main. Mereka memasang berbagai macam selang ke tubuh Rangga. Mereka juga memasang selang oksigen ke hidung Rangga.
Aku duduk di sudut mobil yang melaju kencang itu.
Ketakutan mulai mencengkeramku. Rasa bersalah tiba-tiba muncul di benakku. Hatiku merasa was-was. Takut dimarahi. Takut. Takut segalanya.
Takut kehilangan.
Pandanganku menjadi kabur, terhalang genangan air mata. Jari-jari tanganku bergetar. Aku berani melihat ke arah Rangga. Aku hanya menunduk, membisu.
Tangan Rangga terangkat tiba-tiba. Ia berusaha menjangkauku. Ragu-ragu, aku mendekatinya.
“Rangga?”
Wajah Rangga basah dipenuhi keringat. Napas terputus-putus, seolah-olah tidak mampu berbicara lagi. Tapi, ia tetap memaksakan diri. Tangannya meraih dan membelai ujung rambutku.
Aku tidak banyak ingat apa yang terjadi di ambulans itu. Yang pasti, Rangga berbisik pelan, “Jangan menangis.”
Lalu ia tersenyum. Senyumnya damai dan tenang itu merupakan senyum terakhirnya.
*
Buru-buru, aku menghapus air mataku. Bisa-bisa, aku disangka sinting oleh orang-orang di sekitar. Aku menghela napas lega. “Kalau begitu, sampai tahun depan, ya, Rangga.”
Aku berjalan menjauh. Sekali lagi, kutinggalkan kenangan masa lalu itu. Sekali lagi, aku melangkah menuju masa depan.
Dalam hati, aku berterima kasih pada Rangga telah mengajarkanku banyak hal mengenai kehidupan ini. Terutama tentang betapa luasnya kekuasaan Tuhan itu dan betapa berharganya sebuah nyawa.
Karena sesungguhnya tidak ada manusia yang pantas mati.
* * *

0 Comments:

Post a Comment

<< Home